Kamis, 22 Oktober 2015

Resume Jurnal


Saya akan mencoba untuk meringkas sebuah jurnal yang dipilih oleh kelompok saya untuk keperluan tugas.
Jurnal ini berjudul : Subjective Well Being Mahasiswa yang Menggunakan Internet Secara Berlebihan.
Ditulis oleh Novrita Ade Putri dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

                Jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia, pada tahun 2005 terdapat 1,2 juta pengguna. 2006 meningkat hamper mencapai 2,4 juta. Dan pada 2011 Indonesia menempati urutan ke-8 di dunia pengguna internet terbanyak dengan 39 juta pengguna.Internet memiliki dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah Internet Addiction, yaitu ketidak mampuan individu untuk mengontrol penggunaan internetnya yang dapat mengganggu kehidupan individu tersebut. Individu dapat menggunakan internet lebih dari 20 jam perminggu. Terdapat 2 faktor penyebab Internet Addiction. Faktor eksternal yang meliputi lingkungan keluarga, sosial, dan budaya, dan faktor internal yang meliputi kepribadian, control diri, minat, motif, pengetahuan, dan usia. Hasil survey awal secara online pada mahasiswa semester 4 hingga 7 mengenai lamanya penggunaan internet per harinya menunjukan hasil sebagai berikut:

Semester
1-2 jam
3-4 jam
5-6 jam
> 6 jam
4
50%
37,5%
12,5%
0%
5
29,41%
41,18%
23,53%
5,88%
6
23,53%
52,94%
17,65%
5,88%
7
5,88%
5,88%
64,7%
23,53%

Hasil survey awal juga menunjukan dampak positif dan negatif penggunaan internet sebagai berikut:

Dampak Positif
Prosentase
Dampak Negatif

Untuk hiburan dan mengurrangi kesepian
3%
Mudah mengakses situs porno
1%
Bisnis
4%
Menjadi boros
4%
Memudahkan tugas kuliah atau pekerjaan
10%
Berdampak pada fisik (mata lelah, pusing, sering ngantuk, dan lain-lain)
7%
Memudahkan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi
30%
Menjadi addict
17%
Memudahkan dalam mencari informasi
52%
Acuh terhadap lingkungan
26%


Menjadi lupa waktu sehingga tugas kuliah tidak dikerjakan
44%

Menurut Young (2005) dampak internet addiction adalah kehilangan pekerjaan atau kesempatan dalam meraih karir atau pendidikan yang lebih baik, kehilangan kesempatan berelasi dengan lingkungan, hubungan tak baik dengan keluarga, dan menggunakan internet sebagai pelarian dari masalah. Apabila dikaitkan dengan dampak tersebut, individu penderita internet addiction cenderung seringkali menunjukan emosi negative seperti cemas, sedih, depresi dan lain-lain. Hasil penelitian Kraut et al (1998) menunjukan bahwa individu yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggunakan internet merupakan individu yang seringkali merasakan depresi dan kesepian. Hasil penelitian Ceyhan dan Gurcan (2008) menunjukan bahwa yang paling banyak mengalami internet addiction adalah individu dewasa dan dampak penggunaan internet tersebut berdampak pada psychological well being. Kandell (1998) menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan kelompok usia lain, internet addiction adalah masalah terbesar bagi mahasiswa. Salah satu faktor yang dapat menjelaskan mahasiswa menggunakan internet secara berlebihan adalah dinamika psikologis dan perkembangan mahasiswa itu sendiri yang sedang berada pada masa emerging adulthood. Ketika individu berada pada masa ini, individu berada pada kondisi yang tidak stabil karena banyak mengadopsi pengalaman dan pengetahuan dari lingkungannya, misalnya dalam penggunaan internet yang hamper dilakukan oleh semua orang.

Metode Penelitian

                Fokus penelitian ini adalah subjective well being mahasiswa yang menggunakan internet secara berlebihan. Subjective well being mahasiswa yang menggunakan internet secara berlebihandalam penelitian ini adalah bagaimana mahasiswa akan mengevaluasi kehidupannya, baik secara kognitif maupun afektif. Subjek penelitian adalah mahasiswa semester 7  Fakultas Psikologi Universitas Surabaya berusia 18-25 tahun, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, pengguna internet berlebihan dengan lama penggunann internet minimal 3 jam perhari, dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Instrumen pengambilan data dalam penelitian ini adalah angket. Angket terbuka untuk mengetahui demografis subjek dan informasi lainnya, angket tertutup yang digunakan adalah Satisfaction with Life Scale dari Diener et al (1985), Positive and Negative Affect Scale dari Watson et al (1988), dan General Problematic Internet Use Scale dari Caplan (2002). Data yang diperoleh diolah menggunakan visual binning pada program SPPS for Windows Version 16. Kategori yang ditentukan peneliti berada pada rentang 1 hingga 3, dimana 1 untuk kategroi rendah, 2 untuk kategori sedang, dan 3 untuk kategori tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan teknik analisis cluster, yakni teknik analisis data yang mengelompokan objek ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki karasteristik yang sama (Hair et al, 1998).

Hasil dan Pembahasan

                Berdasarkan hasil analisis cluster, diperoleh empat kelompok yang memiliki karesteristik yang sama pada tiap kelompoknya, yakni :
  • Kelompok Well Being Sangat Tinggi
  • Kelompok Well Being Tinggi
  • Kelompok Well Being Sedang
  • Kelompok Well Being Rendah

Sebagian besar dari seluruh kelompok di atas menggunakan internet untuk mempermudah mencari informasi terkait tugas kuliah. Mereka juga menganggap bahwa pengunaan internetnya selama ini sesuai dengankebutuhannya,yaitu sebagai media komunikasi, sarana jual beli, dan lain-lain. Subjek pada seluruh kelompok tidak ada yang menunjukan keseriusan atau keparahan pada simptom-simptom problematic internet use, hal ini dibuktikan pada seluruh simptom, seluruh kelompok berada pada kategori sedang dan rendah. Motif dari penggunaan internet terkait dengan tuntunan akademis, level of problematic internet use seluruh kelompok yang tergolong sedang, dan negative outcomes seluruh kelompok yang tergolong rendah ini dapat menjelaskan bahwa pada seluruh kelompok tidak menunjukan negative outcomes yang terkait dengan kognisi, khususnya subjective well being. Untuk menjelaskan subjective well being pada masing-masing kelompok, dapat dilihat dengan mengacu pada komponen dari subjective well being yaitu life satisfaction, presence of frequent positive affect, dan relative absence of negative affect. Dibandingkan dengan kelompok lainnya,  life satisfaction pada kelompok Well Being Sangat Tinggi tergolong paling tinggi. Sama seperti kelompok Well Being Sangat Tinggi, kelompok Well Being Tinggi jugamenunjukan life satisfaction yang tergolong tinggi. Pada kelompok Well Being Sedang, life satisfaction subjek tergolong sedang. Life satisfaction pada kelompok Well Being Rendah juga tergolong sedang, namun perbedaannya dengan kelompok lainnya, kelompok ini lebih sering merasakan emosi negatif daripada emosi positif, hal ini dapat dilihat dari negative affect yang tinggi dan positive affect yang tergolong sedang.

Kesimpulan

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa subjective well being tidak berkaitan dengan problematic internet use. Kelompok Well Being Sangat Tinggi menunjukan positive affect yang tinggi dan negative affect yang sedang. Kelompok Well Being Tinggi juga menunjukan positive affect yang tinggi, negative affect yang sedang, dan life satisfaction yang tinggi pula, hanya saja skor life satisfaction nya lebih rendah dari kelompok Well Being Sangat Tinggi. Kelompok Well Being Sedang positive affect yang tinggi, negative affect yang sedang, dan life satisfaction yang sedang. Kelompok Well Being Rendah memiliki positive affect yang sedang, negative affect yang tinggi, dan life satisfaction yang sedang.

Pendapat saya :

Kekurangan

Kekurangan jurnal ini adalah dari segi bahas yang terkesan terbelit-belit, tidak efektif. Dan juga penyajian table yang kurang rapi, sehingga menyulitkan dalam membaca dan memahami isi table tersebut.

Kelebihan

Kelebihan paper ini adalah data yang ditampilkan sangat rinci.


Jika saya akan melakukan penelitian yang sama, saya akan lebih menjuruskan subjek penelitian saya dengan menambahkan gender(jenis kelamin) khusus. Misal, hanya laki-laki saja, atau hanya perempuan saja. Atau saya akan mengganti subjek penelitian menjadi karyawan kantor di sebuah daerah yang berusia antara 23-27 tahun yang kerjanya membutuhkan internet dan di kantornya tidak ada pembatasan atas situs-situs yang boleh dikunjungi.